Gadis
Penjual Jilbab
“jilbabnya
mbak....!”
“jilbabnya
buk....!”
Zahra tidak
bosan-bosannya meneriakkan dagangannya. Yah begitulah rutinitas seorang gadis selepas SMA karena harus mengurus
kedua adiknya yang masih kelas enam SD dan kelas dua SMP. Ia berjualan jilbab
disalah satu ruko di pasar tradisional daerahnya. Zahra tidak ambil pusing
dengan kekumuhan pasar tersebut. Walaupun berbecek-becek ria saat musim
penghujun dan berpanas-panasan dengan debu berkeliaran yang siap membawa virus
apa saja saat musim kemarau, Zahra tetap berjuang. Pantang menyerah walau
sedetik.
Baginya ia bukan hanya sedang berdagang untuk
dunia saja. Tetapi sekaligus untuk ahirat. Karena apa? Karena berjilbab adalah
perintah Allah, merupakan kewajiban seorang muslimah yang tidak bisa diganggu
gugat oleh siapapun, kapanpun,
dimanapun dan bagaimanapun sebabnya. Ia selalu ceria menjalani pekerjaannya
sebagai seorang penjual Jilbab meskipun sering diremehkan juga.
Suatu hari ketika Zahra tengah melayani pembeli,
sekelompok remaja puteri mengolok-olok Zahra.
“Heh, temen-temen! Lihat tuh masih ada ya yang
jualan jilbab, itu kan budayanya orang Arab ya? Hidup di daerah padang pasir
biar kulitnya gak item, kan ditutupi kain panjang-panjang gitu ya?” Ujar salah
seorang dari mereka. Kemudian berlalu sambil berlalu terbahak-bahak. Zahra tetap bersabar.
Ia ingat akan pesan-pesan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56, An-Nur
ayat 31 dan ayat Al-Araf ayat 26 tentang berjilbab. Sehingga ia bisa lebih
menenangkan hatinya.
Zahra begitu prihatin atas kondisi umat saat Islam saat sekarang. Begitu
terperdayanya serang muslim-muslimah akan mahluk yang bernama modern ini. Apa saja yang dilakukan oleh
orang-orang barat disebut modern dan
harus ditiru. Kalau tidak menirunya, dianggap jadul, ketinggalan jaman dan
sebagainya. Termasuk cara berpenampilan terutama berpakaian. Teriakan Zahra menawarnya
barang dagangannya berhenti saat mendengar keributan di halaman utama pasar.
Begitu hebohnya sampai-sampai semua orang yang sedang berjualan berbondong-bondong
untuk menuju ke TKP, tak terkecuali Zahra. “Ada apa ya bu?” tanya zahra kepada
Bu Yati, pedagang kelontong setiba di TKP. “ ini nduk, bajajnya nabrak pak
Maman sewaktu mau menarik becaknya dari parkiran.”
“kuk sampai bertengkar hebat begitu bu?”
“iya, si pengemudi tidak mau disalahkan dan tidak
mau bertanggungjawab.”
“Oalah..kasihan Pak Maman ya bu? Semoga beliau
dikuatkan kesabarannya oleh Allah. Matur nuwun Bu, saya mau ke dalam dulu.”
Setelah memberi salam, Zahra begegas menuju
rukonya. Perasaannya tidak enak. Benar saja, dari kejauhan, tampak asap
mengepul dari deretan rukonya, walhasil rukonya pun menjadi salah satu korban
si jago merah. Zahra beristighfar. Untung tadi ia sempat membawa dompetnya
walaupun isnya tidak seberapa. Ia memutuskan untuk pulang saja. Karna tidak ada
barang yang bisa ia selamatkan dan dibawa pulang. Sejenak, ia menatap pilu
reruntuhan rukonya itu.
***
Seminggu setelah kejadian kebakaran rukonya, Zahra
mulai kepasar lagi. Namun bukan untuk berjualan jilbab melainkan sayuran yang
ia dapat dari hasil berkebunnya dengan kedua adiknya dibelakang rumah. Tak
terlintas dalam hatinya kalau
halaman dibelakang rumahnya, akan menjadi lahan penghasilannya sekarang.
Zahra pergi kepasar dengan mengendarai sepeda.
Diperjalanan, ia teringat kedua adiknya yang belum membayar iuran buku sekolah.
Tiba-tiba ia dikejutkan teriakan bu Siti seorang penjual buah. “Nduk,, awaz
didepanmu..!!!”
Zahra tergagap. Ia sempat menghindari truk, tapi sepedanya oleng. Braaak!! Zahra
terjungkal. Sayurannya berhamburan ria dijalan. Kaki kirinya berdarah dan
tangannya lecet. Ia tidak peduli. Dipungutinya dengan sabar sayurannya yang
tercecer. “Mari saya bantu, mbak!” seorang pemuda menghampiri dan membantunya
ke pinggir jalan. “Ini minumnya mbak!” Si pemuda menyodorkan minuman kepada
Zahra setiba dipinggir jalan. “ terima kasih mas! Tapi maaf saya sedang puasa.”
Jawab Zahra. “Oh
maaf mbak, saya tidak tahu.
Mereka terdiam sesaat. Sementara Zahra masih sibuk
membersihkan lukanya. “ Mbak sudah mendingan kan? Saya mau melanjutkan
perjalanan dulu. Ini ada sedikit rizki untuk mbak. Jangan ngalamun lagi lho,
mbak!!” ujar si pemuda memecahkan kesunyian. “ Assalamu’alaikum..! “Waalaikumussalam..!
terimakasih mas..!
Ujar Zahra setengah berteriak.
***
Sebulan telah berlalu sejak tragedi kebakaran itu,
Zahra sekarang cukup mahir berjualan sayur. Namun hatinya berkata bahwa ia
begitu rindu berjualan jilbab. Maka ia berniat setelah jualannya habis nanti ia
akan kembali kerukonya dulu. Sekedar melepas rindunya yang membuncah sekaligus
melihat kondisi rukonya itu. Menurut mbak Wati, tetangganya yang berjualan pakaian - deretan ruko Zahra
sudah diperbaiki dan sudah bisa dipakai lagi sejak seminggu setelah kebakaran
tersebut.
Sebenarnya Zahra ingin berjualan jilbab seperti dulu,
namun sampai sekarang ia belum cukup modal. Terpaksa Zahra pendam keinginan
itu. Entah kenapa hari itu pasar begitu sepi. Sayuran Zahra masih banyak yang
belum terjual, sementara hari telah beranjak siang.
“Mungkin aku sudahi saja jualanku hari ini. apa kabar rukoku?”
Desahnya dalam hati.
Dengan langkah ceria zahra menuju rukonya. Dari kejauhan
tampak berkerumun ibu-ibu dan gadis-gadis remaja berebut dagangan pemuda.
“bukankah yang dikerumuni itu rukoku ya?” tanya Zahra pada dirinya sendiri.
Ketika Zahra mendekat, para pembeli berlalu setelah mendapatkan apa yang
dibeli. “Loh mas, bukannya mas yang dulu pernah menolong saya ketika jatuh dari
sepeda ya? Kok disini mas, mas? Berjualan jilbab pula. Sepertinya ruko ini
masih saya sewa. Ayo bagaimana dijawab mas! “ tanya Zahra bertubi-tubi. “Wah,
mbak cantik-cantik cerewet juga ya?” ujar pemuda sembari terkekeh. Zahra tersipu
mendengar celotehan si pemuda itu. Ia mengambil duduk di pinggir papan menjaga
jarak dengan si pemuda.
“O..jadi ini ruko mbak ya? Lanjut pemuda. Saya sudah
menunggui sipemilik ruko ini tiga minggu lalu, mbak. Ternyata dulu sudah pernah
ketemu dengan pemiliknya ya? Mbak benar. Ini masih ruko mbak. Dan ini semua
adalah dagangan mbak.”
“Haa? Dagangan saya mas?” tanya Zahra setengah kaget.
“iya. Jadi mbak gak perlu berjualan sayur. Ini semua adalah bentuk
pertanggungjawaban saya atas tragedi kebakaran sebulan lalu. Saya minta maaf
mbak. Baiklah karena urusan saya telah selesai, saya pamit dulu.
Si pemuda pergi setelah mengucap salam. Zahra terbata
dalam duduknya. Tak terasa air mata berlarian bahagia dari sudut matanya. Ia
mengucap hamdalah tak henti-henti. Dan bertasbih
kepada-Nya. Allah memang baik. Allah Maha
baik. Ia tidak pernah ingkar janji kepada
hamba-Nya.
By : Nilam Sari PK SMANSAKA