Modernisasi Islam???
Menyebarnya agama Islam di Indonesia
adalah merupakan suatu karunia Allah yang patut disyukuri oleh setiap muslim.
Bukan hanya dalam ucapan atau hati saja, tapi implementasi dalam bentuk sikap
dan perbuatan setiap muslim.
Salah satu pelopor penyebaran agama Islam
di Indonesia terutama di pulau jawa yang termasyhur adalah Walisongo. Pola
penyebaran agama Islam secara sukarela, tidak memaksa dan menyatu dengan budaya
adat jawa mampu membuat masyarakat menerima agama ini dengan terbuka. Islam yang
diajarkan oleh para wali ini masih terjaga baik sampai saat ini yaitu mayoritas Islam yang
menganut madzhab Syafi’i. Namun bak pohon yang sudah tumbuh tua ada saja benalu
yang menempel pada pohon tersebut. Agaknya inilah gambaran Islam di Indonesia
saat ini. Ketika Islam sudah tertanam kuat di masyarakat ada saja faham baru
yang hendak mengganti bahkan menghilangkan madzhab Syafi’i di Indonesia
dengan dalih
kembali pada ajaran nabi Muhammad SAW mereka seolah membuat ajaran modernisasi. Dengan dalih bid'ah mereka mengharamkan ajaran ulama’ terdahulu
seperti tahlilan, membaca al-barzanji, sholawatan, ziarah kubur, dan
sebagainya.Mereka juga mengharuskan orang Islam untuk berijtihad sendiri,
berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits saja tanpa harus melihat pertimbangan dari
ulama’- ulama’ salaf. Dan inilah yang katanya disebut dengan modernisasi agama.
Jika dikembalikan
pada konsep awal mereka yaitu “kembali pada ajaran nabi, siapa yang lebih tahu
tentang nabi? Siapa yang lebih faham tentang nabi? Dan
siapa yang lebih mengerti tentang hukum Islam? Apakah para ulama’ terdahulu
ataukah para pengagum modernisasi agama-agama ini?.
Adalah sesuatu yang janggal ketika
seseorang sudah mulai meninggalkan ajaran para ulama’ terdahulu, dan Islam nantinya
pun akan berbeda dengan Islam zaman nabi. Lalu dimana letak ajaran-ajaran
kembali pada rasul? Bukankah ini akan membuat Islam semakin jauh dari rasul.
Ini adalah salah satu dari bahaya “Modernisasi Islam” terus berkembang
yang akan membuat kita semakin jauh dari ulama’.
Kenapa para missioner pendakwah
mengarahkan sasaran dakwahnya kepada para pelajar? Tentunya karena pelajar ini
masih labil, masih mencari kebenaran dengan ajaran-ajaran leluhur mereka
pertahankan. Inilah moment yang paling tepat tatkala kita sedang haus akan ilmu
dan hati yang cenderung memberontak, kita ditawarkan dan disuguhkan dengan
makanan-makanan rohani yang sebenarnya bertolak belakang dengan ajaran nabi
Muhammad SAW. Alangkah riangnya otak dan hati kita akan menerima ajaran-ajaran
yang dibawa oleh kaum yang mengatasnamakan modernisasi Islam, namun kenyataanya
tidak sesuai dengan Al-Qur'an.
Kita tidak tahu nasib kita di ahirat
kelak karena melakukan penyelewengan ajaran. Dalam sebuah hadits Shahih yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhori menyebutkan :
من فسرالقرأن برأيه
فليتبوّء مقعده في ا لنار (رواه ابخا رى)
Artinya : Barang siapa menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya
sendiri, maka hendaklah ia mempersiapkan
tempat duduknya dari neraka. (HR. Bukhori)
Walhasil dengan tidak sengaja dan tidak langsung, kita
sudah membeli tiket ke neraka jika kita sampai menerima ajaran-ajaran tersebut.
Maka dari itu sebagai generasi muslim sejati dalam mencari ilmu hendaklah memiliki
guru yang benar-benar berpegang teguh pada sumber ajaran dan mengikuti
ulama'-ulama' terdahulu yang sudah diketahui keabsahannya dalam bidangnya. Dan
wajib bagi seorang muslim untuk thulul amal ( berfikir panjang) sebelum
mengambil suatu keputusan atau ajaran.
ما خاب من استخرولاندم
من اتشر
Artinya : Tidak rugi orang
yang mau beristikoroh dan tidak akan menyesal orang yang mau bermusyawarah.
By : Zaenal Arifin, Muchsinuddin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar