Halaman

Selasa, 10 September 2013

الحياة الطيّبة*
الحمدلله الذى هدانا لهدا، وما كنّا لنهتدي لولا أن هدانالله. الصلاة والسلام على رسول المصطفى وعلى أله وأصحابه أهل الوفى. أما بعد. أقدّمكم فى كتابة هذا ، مسألة . ألّتى لايشعرالناس بِمهُمِّها وهي كيفيةالحياة الطيّبة فأكثرهم يظنّون أنّ سعادةالنفس ومسا لمها بكثرالآموال والثرْوَة وكريمة الوجه اَوِالولدِ الّذى يخْدِم السّلطان. فلذالك يسارعون إلى الدّنيا بأي طارق كان حتّى يحلّ الحرم ويعتدون الرشوة يظنّون أنها حلا ل،وينسون الآخرةَ ، لِتسليةالقلب ولكنّ الواقع ليس كذالك. بل ازددالطّمع وعمى القلبُ عن منهاج السداد. أإذا رُزِقَ الرّجل برزقٍ حلالٍ كافٍ وولدٍ صالحٍ خيرٌمن أن يُرْزَقَ بكثرةالماَلِ وكريمة الوجه لكنّا ولده لا يزالُ في معْصِية الله ولا يُلازِمُ طريق العلم بل الهوى ، فتنبه أيّها المؤمنون لأن  الحياة خيّارةٌ والخيّارة خيرها وشرّها مسؤلةٌ في القيا مة. قال تعال : مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل 97) قيل : هي حياّة الجنّة : و قيل فى الدنيا با لقنا عة ورزق الحلا ل (تفسير الجلالين ).
فالحياة الطيّبة لايحصل إلاّ بالإيمان والعملِ الصالحِ كما فى أياتِ المذكورة ، ولامذمومَ فى طلب المعاشى ما لم ينسَ الأخرةُ كما قال الشيخُ الكبير وحجةُ الإسلام الإمام الغزلى :
والناسُ ثلاثةٌ : رجلٌ شغله معاشِه عن معادِهِ فهو من الهالكين . ورجلٌ شغله معادُه عن معاشِه فهو من الفائزين . والأقربُ الى الإعتدالِ هو الثالثُ الذى شغله معاشِه لمعاده فهو من المقتصِدين . ولن ينالَ رتبةَ الإقتصادِ من لمْ يلازمْ فى طلب المعيشةِ مِنْهاجَ السَّدَا دِ ولن يَنْتَهِضَ من طلب الدنيا واسلةً الى الأخرة وذريعةً ما لم يتأدّبْ فى طلبها بأدابِ الشريعةِ .
( الإحياء علوم الدين الجز الثانى ص . 62 - 63 )
فلا يُعرَفُ أدابُ الشريعةِ إلاّ بطلب العلمِ ومجالسةِ العلماءِ : وفى الخبرِ : كان النبيُّ صلّى الله عليه وسلّم جالساً مع أصحابِهِ ذاتَ يومٍ فنظر إلى شاب ذى جلدٍ وقوّةٍ وقد بَكَّرَ يَسْعَى فقالوا ويخ هذا لو كان شبابه وجلده فى سبيلِ الله فقال النبيُّ صلّى الله عليه وسلّم : لاتقولوا هذا فإنه إن كان يسعى على نفسه ليَكْفِيها عن المسئلة ويغنيها عن الناس فهو فى سبيل الله وان كان يسعَى على أَبَوينِ ضعْفَينِ أو ذرّيةٍ ضُعافٍ لِيُغْنيَهم ويَكْفيَهم فهو فى سبيل الله , وإن كان يسعى تفاخراً أوتكاثراً فهو فى سبيل الشيطان , الحديث الطبرانى فى معاجمِه الثلاثة من حديث كَعْبِ ابن عُجْرَةَ بسندٍ ضعيفٍ وقال النبيُّ صلّى الله عليه وسلّم إنّ الله يحبّ العبدَ يتّخذ المِهنَةَ لِيسْتَغْنِيَ بها عن الناس ويُبْغضُ العبدَ يتعلّم العلمَ يتّخذه مهنةً
( الإحياء الجز الثانى ص . 63 )
ويجب علينا أن نُحسنَ النيّةَ حين نعمل بأَيّ عملٍ لكَيْ نَنالَ رضا الله فبسببِ الرضا سنبْلُغُ طيّبةَ الحياة إن شاء الله .

ونختَتِمُ هذه الرسالةَ بحمدِ الله والصلاةِ والسلامِ على سيدِنا محمّد رسولِ الله أن ينفعنا اللهُ بها فى الدّارين آمين .  والخطأُ والنسْيانُ منّى والعفوُ منكم إخوانى رحمكم الله وغفرَكم الله آمين آمين آمين يا ربّ العالمين . والسلام .

    Muchsinuddin PAC IPNU KAYEN*                                   
Gadis Penjual Jilbab

“jilbabnya mbak....!”
“jilbabnya buk....!”
Zahra tidak bosan-bosannya meneriakkan dagangannya. Yah begitulah rutinitas seorang gadis selepas SMA karena harus mengurus kedua adiknya yang masih kelas enam SD dan kelas dua SMP. Ia berjualan jilbab disalah satu ruko di pasar tradisional daerahnya. Zahra tidak ambil pusing dengan kekumuhan pasar tersebut. Walaupun berbecek-becek ria saat musim penghujun dan berpanas-panasan dengan debu berkeliaran yang siap membawa virus apa saja saat musim kemarau, Zahra tetap berjuang. Pantang menyerah walau sedetik.
Baginya ia bukan hanya sedang berdagang untuk dunia saja. Tetapi sekaligus untuk ahirat. Karena apa? Karena berjilbab adalah perintah Allah, merupakan kewajiban seorang muslimah yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun sebabnya. Ia selalu ceria menjalani pekerjaannya sebagai seorang penjual Jilbab meskipun sering diremehkan juga.
Suatu hari ketika Zahra tengah melayani pembeli, sekelompok remaja puteri mengolok-olok Zahra.
“Heh, temen-temen! Lihat tuh masih ada ya yang jualan jilbab, itu kan budayanya orang Arab ya? Hidup di daerah padang pasir biar kulitnya gak item, kan ditutupi kain panjang-panjang gitu ya?” Ujar salah seorang dari mereka. Kemudian berlalu sambil berlalu terbahak-bahak. Zahra tetap bersabar. Ia ingat akan pesan-pesan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56, An-Nur ayat 31 dan ayat Al-Araf ayat 26 tentang berjilbab. Sehingga ia bisa lebih menenangkan hatinya. Zahra begitu prihatin atas kondisi umat saat Islam saat sekarang. Begitu terperdayanya serang muslim-muslimah akan mahluk yang bernama modern ini. Apa saja yang dilakukan oleh orang-orang barat disebut modern dan harus ditiru. Kalau tidak menirunya, dianggap jadul, ketinggalan jaman dan sebagainya. Termasuk cara berpenampilan terutama berpakaian. Teriakan Zahra menawarnya barang dagangannya berhenti saat mendengar keributan di halaman utama pasar. Begitu hebohnya sampai-sampai semua orang yang sedang berjualan berbondong-bondong untuk menuju ke TKP, tak terkecuali Zahra. “Ada apa ya bu?” tanya zahra kepada Bu Yati, pedagang kelontong setiba di TKP. “ ini nduk, bajajnya nabrak pak Maman sewaktu mau menarik becaknya dari parkiran.”
“kuk sampai bertengkar hebat begitu bu?”
“iya, si pengemudi tidak mau disalahkan dan tidak mau bertanggungjawab.”
“Oalah..kasihan Pak Maman ya bu? Semoga beliau dikuatkan kesabarannya oleh Allah. Matur nuwun Bu, saya mau ke dalam dulu.”
Setelah memberi salam, Zahra begegas menuju rukonya. Perasaannya tidak enak. Benar saja, dari kejauhan, tampak asap mengepul dari deretan rukonya, walhasil rukonya pun menjadi salah satu korban si jago merah. Zahra beristighfar. Untung tadi ia sempat membawa dompetnya walaupun isnya tidak seberapa. Ia memutuskan untuk pulang saja. Karna tidak ada barang yang bisa ia selamatkan dan dibawa pulang. Sejenak, ia menatap pilu reruntuhan rukonya itu.
***
Seminggu setelah kejadian kebakaran rukonya, Zahra mulai kepasar lagi. Namun bukan untuk berjualan jilbab melainkan sayuran yang ia dapat dari hasil berkebunnya dengan kedua adiknya dibelakang rumah. Tak terlintas dalam hatinya kalau halaman dibelakang rumahnya, akan menjadi lahan penghasilannya sekarang.
Zahra pergi kepasar dengan mengendarai sepeda. Diperjalanan, ia teringat kedua adiknya yang belum membayar iuran buku sekolah. Tiba-tiba ia dikejutkan teriakan bu Siti seorang penjual buah. “Nduk,, awaz didepanmu..!!!” Zahra tergagap. Ia sempat menghindari truk, tapi sepedanya oleng. Braaak!! Zahra terjungkal. Sayurannya berhamburan ria dijalan. Kaki kirinya berdarah dan tangannya lecet. Ia tidak peduli. Dipungutinya dengan sabar sayurannya yang tercecer. “Mari saya bantu, mbak!” seorang pemuda menghampiri dan membantunya ke pinggir jalan. “Ini minumnya mbak!” Si pemuda menyodorkan minuman kepada Zahra setiba dipinggir jalan. “ terima kasih mas! Tapi maaf saya sedang puasa.” Jawab Zahra. Oh maaf mbak, saya tidak tahu.
Mereka terdiam sesaat. Sementara Zahra masih sibuk membersihkan lukanya. “ Mbak sudah mendingan kan? Saya mau melanjutkan perjalanan dulu. Ini ada sedikit rizki untuk mbak. Jangan ngalamun lagi lho, mbak!!” ujar si pemuda memecahkan kesunyian. “ Assalamu’alaikum..! “Waalaikumussalam..! terimakasih mas..! Ujar Zahra setengah berteriak.

***
Sebulan telah berlalu sejak tragedi kebakaran itu, Zahra sekarang cukup mahir berjualan sayur. Namun hatinya berkata bahwa ia begitu rindu berjualan jilbab. Maka ia berniat setelah jualannya habis nanti ia akan kembali kerukonya dulu. Sekedar melepas rindunya yang membuncah sekaligus melihat kondisi rukonya itu. Menurut mbak Wati, tetangganya yang berjualan pakaian - deretan ruko Zahra sudah diperbaiki dan sudah bisa dipakai lagi sejak seminggu setelah kebakaran tersebut.
Sebenarnya Zahra ingin berjualan jilbab seperti dulu, namun sampai sekarang ia belum cukup modal. Terpaksa Zahra pendam keinginan itu. Entah kenapa hari itu pasar begitu sepi. Sayuran Zahra masih banyak yang belum terjual, sementara hari telah beranjak siang.
“Mungkin aku sudahi saja jualanku hari ini. apa kabar rukoku?” Desahnya dalam hati.
Dengan langkah ceria zahra menuju rukonya. Dari kejauhan tampak berkerumun ibu-ibu dan gadis-gadis remaja berebut dagangan pemuda. “bukankah yang dikerumuni itu rukoku ya?” tanya Zahra pada dirinya sendiri. Ketika Zahra mendekat, para pembeli berlalu setelah mendapatkan apa yang dibeli. “Loh mas, bukannya mas yang dulu pernah menolong saya ketika jatuh dari sepeda ya? Kok disini mas, mas? Berjualan jilbab pula. Sepertinya ruko ini masih saya sewa. Ayo bagaimana dijawab mas! “ tanya Zahra bertubi-tubi. “Wah, mbak cantik-cantik cerewet juga ya?” ujar pemuda sembari terkekeh. Zahra tersipu mendengar celotehan si pemuda itu. Ia mengambil duduk di pinggir papan menjaga jarak dengan si pemuda.
“O..jadi ini ruko mbak ya? Lanjut pemuda. Saya sudah menunggui sipemilik ruko ini tiga minggu lalu, mbak. Ternyata dulu sudah pernah ketemu dengan pemiliknya ya? Mbak benar. Ini masih ruko mbak. Dan ini semua adalah dagangan mbak.”
“Haa? Dagangan saya mas?” tanya Zahra setengah kaget.
“iya. Jadi mbak gak perlu berjualan sayur. Ini semua adalah bentuk pertanggungjawaban saya atas tragedi kebakaran sebulan lalu. Saya minta maaf mbak. Baiklah karena urusan saya telah selesai, saya pamit dulu.
Si pemuda pergi setelah mengucap salam. Zahra terbata dalam duduknya. Tak terasa air mata berlarian bahagia dari sudut matanya. Ia mengucap hamdalah tak henti-henti. Dan bertasbih kepada-Nya. Allah memang baik. Allah Maha baik. Ia tidak pernah ingkar janji kepada hamba-Nya.
                                      
                                                             By : Nilam Sari PK SMANSAKA


Jumat, 06 September 2013

Modernisasi Islam???

Menyebarnya agama Islam di Indonesia adalah merupakan suatu karunia Allah yang patut disyukuri oleh setiap muslim. Bukan hanya dalam ucapan atau hati saja, tapi implementasi dalam bentuk sikap dan perbuatan setiap muslim.
Salah satu pelopor penyebaran agama Islam di Indonesia terutama di pulau jawa yang termasyhur adalah Walisongo. Pola penyebaran agama Islam secara sukarela, tidak memaksa dan menyatu dengan budaya adat jawa mampu membuat masyarakat menerima agama ini dengan terbuka. Islam yang diajarkan oleh para wali ini masih terjaga baik sampai saat ini yaitu mayoritas Islam yang menganut madzhab Syafi’i. Namun bak pohon yang sudah tumbuh tua ada saja benalu yang menempel pada pohon tersebut. Agaknya inilah gambaran Islam di Indonesia saat ini. Ketika Islam sudah tertanam kuat di masyarakat ada saja faham baru yang hendak mengganti bahkan menghilangkan madzhab Syafi’i di Indonesia dengan dalih kembali pada ajaran nabi Muhammad SAW mereka seolah membuat ajaran modernisasi. Dengan dalih bid'ah mereka mengharamkan ajaran ulama’ terdahulu seperti tahlilan, membaca al-barzanji, sholawatan, ziarah kubur, dan sebagainya.Mereka juga mengharuskan orang Islam untuk berijtihad sendiri, berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits saja tanpa harus melihat pertimbangan dari ulama’- ulama’ salaf. Dan inilah yang katanya disebut dengan modernisasi agama.
Jika dikembalikan pada konsep awal mereka yaitu “kembali pada ajaran nabi, siapa yang lebih tahu tentang nabi? Siapa yang lebih faham tentang nabi? Dan siapa yang lebih mengerti tentang hukum Islam? Apakah para ulama’ terdahulu ataukah para pengagum modernisasi agama-agama ini?.
Adalah sesuatu yang janggal ketika seseorang sudah mulai meninggalkan ajaran para ulama’ terdahulu, dan Islam nantinya pun akan berbeda dengan Islam zaman nabi. Lalu dimana letak ajaran-ajaran kembali pada rasul? Bukankah ini akan membuat Islam semakin jauh dari rasul. Ini adalah salah satu dari bahaya “Modernisasi Islam” terus berkembang yang akan membuat kita semakin jauh dari ulama’.
Kenapa para missioner pendakwah mengarahkan sasaran dakwahnya kepada para pelajar? Tentunya karena pelajar ini masih labil, masih mencari kebenaran dengan ajaran-ajaran leluhur mereka pertahankan. Inilah moment yang paling tepat tatkala kita sedang haus akan ilmu dan hati yang cenderung memberontak, kita ditawarkan dan disuguhkan dengan makanan-makanan rohani yang sebenarnya bertolak belakang dengan ajaran nabi Muhammad SAW. Alangkah riangnya otak dan hati kita akan menerima ajaran-ajaran yang dibawa oleh kaum yang mengatasnamakan modernisasi Islam, namun kenyataanya tidak sesuai dengan Al-Qur'an.
Kita tidak tahu nasib kita di ahirat kelak karena melakukan penyelewengan ajaran. Dalam sebuah hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori menyebutkan :
من فسرالقرأن برأيه فليتبوّء مقعده في ا لنار (رواه ابخا رى)                                  
Artinya : Barang siapa menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah ia  mempersiapkan tempat duduknya dari neraka. (HR. Bukhori)
           Walhasil dengan tidak sengaja dan tidak langsung, kita sudah membeli tiket ke neraka jika kita sampai menerima ajaran-ajaran tersebut. Maka dari itu sebagai generasi muslim sejati dalam mencari ilmu hendaklah memiliki guru yang benar-benar berpegang teguh pada sumber ajaran dan mengikuti ulama'-ulama' terdahulu yang sudah diketahui keabsahannya dalam bidangnya. Dan wajib bagi seorang muslim untuk thulul amal ( berfikir panjang) sebelum mengambil suatu keputusan atau ajaran.
ما خاب من استخرولاندم من اتشر                                                                          
Artinya : Tidak rugi orang yang mau beristikoroh dan tidak akan menyesal orang yang mau bermusyawarah.

                                                                                                          
                                                                                            By : Zaenal Arifin, Muchsinuddin

Rabu, 04 September 2013

Sebagian crew Sajadah PAC IPNU - IPPNU KAYEN Pati sedang eksis... tuch kan cakep2 smua...
I